Kota Yang Malang
Sore itu sepulang dari kantor jalanan di kota penuh sesak. Semuanya ada disana mulai dari truk hingga sepeda kayuh berbagai merek. Baru kali ini aku pulang dengan keadaan macet terparah yang pernah ku alami selama hidup di kota ini. Polusi dimana-mana dan keadaan pohon sepertinya mulai jarang terlihat dan terganti dengan pohon beton dan kaca yang menjulang tinggi. Sungai kopi mengalir dengan tenang di pinggir jalan. Yup sungai kopi seperti warnanya sungai ini sehitam kopi. Entah bahan kimia apa saja yang ada di dalam sana bahkan melihatnya saja membuatku mual.
Sesampainya di rumah aku langsung mengerjakan tugas kantorku yang belum selesai dan harus dikirim malam itu juga. Melelahkan memang namun bagaimana lagi. Tinggal di kota industri dimana tidak ada pengangguran sama sekali. Masyarakatnya memang sejahtera namun tidak sesejahtera yang kau bayangkan. Setiap pagi dimana yang seharusnya ayam berkokok kini digantikan dengan suara klakson yang selalu di pencet bak mainan dan kata umpatan yang selalu terlontar dari mulut mereka. Aku tak tahu apa yang ada di pikiran mereka sampai sampai di pagi hari pun kemacetan dan kerusuhan sudah harus menghias kota ini. Aku pun bersiap untuk kerja dan berpakaian rapi juga menyiapkan telinga ku agar tidak jebol mendengar klakson yang sangat keras.
Ketika keluar dari rumah aku melihat jalanan sekitar basah. Ternyata semalam baru saja terjadi hujan yang sangat deras. Akupun tak memperdulikannya dan tetap melanjutkan untuk berangkat kerja. Baru saja aku keluar dari komplek perumahan aku telah disambut oleh macet panjang. Aku tak habis pikir dengan keadaan kota ini. Bingung apa yang menyebabkan kemacetan aku pun menyalip beberapa pengendara dan ternyata terdapat pohon yang tumbang, sepertinya akibat hujan kemarin malam pikirku. Terlihat aparat polisi dan beberapa pekerja berusaha memindahkan pohon tersebut dengan tenaga yang ada. Melihat hal tersebut akupun langsung turun dan membantu pekerja tersebut begitu juga dengan pengendara lainnya. Setelah pohon berhasil di pindahkan akhirnya jalanan kembali lancar. Lega akhirnya melihat jalanan tidak macet lagi. Namun persepsi ku rupanya salah. Setelah berjalan beberapa kilo aku kembali dihadapkan macet. Namun kali ini bukan pohon tumbang melainkan luapan sungai kopi yang menjijikan dan penuh sampah memenuhi jalanan. Merasa muak akhirnya akupun memutuskan untuk tidak masuk kerja dan pergi mengambil rehat sejenak.
Akupun memutuskan untuk kembali pulang ke rumah dan langsung menelpon bosku bahwa aku tidak bisa masuk karena demam. Bosku menyetujuinya dan menyuruhku untuk mengirim berkas yang seharusnya untuk minggu depan dikirimkan sekarang. Akupun langsung mengerjakannya dan segera mengirimnya agar bisa beristirahat dari hiruk piruk kota. Selang beberapa jam setelah menyelesaikan pekerjaan akupun langsung mengirimnya dan kini aku bingung apa yang harus dilakukan untuk menikmati istirahat ini. Setelah dipikir pikir akhirnya aku memutuskan untuk pindah kota ke tempat yang lebih hijau.
Beberapa hari setelahnya aku pun memutuskan untuk bekerja di kantor cabang yang terletak di kota lain. Aku pun mengemasi semua barangku untuk pindah rumah. Untuk sementara aku akan tinggal di apartemen. Kebetulan apartemen yang akan aku tempati kebetulan adalah punya temanku sehingga akupun mendapat harga murah. Semua barang pun aku ku masukkan ke dalam koper kecuali taman bunga dan beberapa pohon yang ada di belakang rumah. Semoga pohon dan bunga yang aku tanam dirawat oleh pemilik selanjutnya dan tumbuh subur untuk mengubah keadaan kota
Sesampainya di rumah aku langsung mengerjakan tugas kantorku yang belum selesai dan harus dikirim malam itu juga. Melelahkan memang namun bagaimana lagi. Tinggal di kota industri dimana tidak ada pengangguran sama sekali. Masyarakatnya memang sejahtera namun tidak sesejahtera yang kau bayangkan. Setiap pagi dimana yang seharusnya ayam berkokok kini digantikan dengan suara klakson yang selalu di pencet bak mainan dan kata umpatan yang selalu terlontar dari mulut mereka. Aku tak tahu apa yang ada di pikiran mereka sampai sampai di pagi hari pun kemacetan dan kerusuhan sudah harus menghias kota ini. Aku pun bersiap untuk kerja dan berpakaian rapi juga menyiapkan telinga ku agar tidak jebol mendengar klakson yang sangat keras.
Ketika keluar dari rumah aku melihat jalanan sekitar basah. Ternyata semalam baru saja terjadi hujan yang sangat deras. Akupun tak memperdulikannya dan tetap melanjutkan untuk berangkat kerja. Baru saja aku keluar dari komplek perumahan aku telah disambut oleh macet panjang. Aku tak habis pikir dengan keadaan kota ini. Bingung apa yang menyebabkan kemacetan aku pun menyalip beberapa pengendara dan ternyata terdapat pohon yang tumbang, sepertinya akibat hujan kemarin malam pikirku. Terlihat aparat polisi dan beberapa pekerja berusaha memindahkan pohon tersebut dengan tenaga yang ada. Melihat hal tersebut akupun langsung turun dan membantu pekerja tersebut begitu juga dengan pengendara lainnya. Setelah pohon berhasil di pindahkan akhirnya jalanan kembali lancar. Lega akhirnya melihat jalanan tidak macet lagi. Namun persepsi ku rupanya salah. Setelah berjalan beberapa kilo aku kembali dihadapkan macet. Namun kali ini bukan pohon tumbang melainkan luapan sungai kopi yang menjijikan dan penuh sampah memenuhi jalanan. Merasa muak akhirnya akupun memutuskan untuk tidak masuk kerja dan pergi mengambil rehat sejenak.
Akupun memutuskan untuk kembali pulang ke rumah dan langsung menelpon bosku bahwa aku tidak bisa masuk karena demam. Bosku menyetujuinya dan menyuruhku untuk mengirim berkas yang seharusnya untuk minggu depan dikirimkan sekarang. Akupun langsung mengerjakannya dan segera mengirimnya agar bisa beristirahat dari hiruk piruk kota. Selang beberapa jam setelah menyelesaikan pekerjaan akupun langsung mengirimnya dan kini aku bingung apa yang harus dilakukan untuk menikmati istirahat ini. Setelah dipikir pikir akhirnya aku memutuskan untuk pindah kota ke tempat yang lebih hijau.
Beberapa hari setelahnya aku pun memutuskan untuk bekerja di kantor cabang yang terletak di kota lain. Aku pun mengemasi semua barangku untuk pindah rumah. Untuk sementara aku akan tinggal di apartemen. Kebetulan apartemen yang akan aku tempati kebetulan adalah punya temanku sehingga akupun mendapat harga murah. Semua barang pun aku ku masukkan ke dalam koper kecuali taman bunga dan beberapa pohon yang ada di belakang rumah. Semoga pohon dan bunga yang aku tanam dirawat oleh pemilik selanjutnya dan tumbuh subur untuk mengubah keadaan kota
Tidak ada komentar:
Posting Komentar